DALAM SELEBARAN EDISI 01 sudah ditulis beberapa tujuan pemekaran kabupaten Muman yang berhasil diidentifikasi. Satu dari beberapa tujuan tersebut adalah : membuat Orang Muman menjadi kaum pinggiran. Kita belajar dari pengalaman, bahwa tanah Papua sebenarnya telah dijadikan tanah terjanji bagi kaum pendatang seperti status Palestina bagi Israel. Tanah ini menjadi target penguasaan oleh kaum pendatang dan mereka memanfaatkan segala kesempatan untuk mencapai tujuan ini. Salah satu cara adalah dengan menunggangi nafsu pimpin dan berkuasa tanpa kemampuan yang secara alamiah ada pada sekelompok orang Papua. Mereka memanfaatkan fakta memalukan ini untuk membentuk wilayah baru.
Pemekaran Muman – seperti pemekaran wilayah lainnya di Papua – bertujuan untuk membuat kaum pribumi menjadi orang pinggiran. Kita semua tahu dengan jelas bahwa Merauke merupakan sarang kaum pendatang. Disana penduduk pribumi berstatus sebagai kaum pinggiran. Mereka menjadi korban pembangunan (yang namanya pembangunan tidak pernah berpihak kepada kaum pribumi di planet ini) dan penguasaan tanah-tanah ulayat mereka oleh kaum pendatang. Mereka berkeliaran seperti makhluk aneh dengan jumlah yang sangat sedikit. Jumlah mereka tentu saja ditekan selama hampir 100 tahun – sejak Gereja Katolik menancapkan kukunya diatas bumi Anim Ha – agar tidak boleh berkembang. Hal ini mengikuti rumus baku dalam hal caplok-mencaplok wilayah tertentu, bahwa jumlah kaum pribumi yang banyak dan kuat biasanya akan menjadi ancaman dan penghalang terbesar bagi para pendatang yang ingin mencaplok dan menguasai wilayah milik pribumi bersangkutan.
Suku Marind Anim yang hampir punah, hilang kepercayaan diri dan tunduk takluk menyembah para puanim (pendatang), ternyata membuat kaum pendatang merasa senang karena dengan kondisi suku asli yang jumlahnya sedikit dan menyerupai mayat hidup ini, mereka akan dengan leluasa berkembangbiak, menguasai semua sumber-sumber penghidupan masyarakat, menguasai pemerintahan dan mengambil-alih tanah pusaka Marind Anim. Tetapi mereka masih mendapat tantangan karena ada banyak suku pribumi Papua Selatan – Yahray, Awyu, Asmat, Wambon, Muyu, Kombay, dll – yang hidup bersama orang Marind Anim dan membangun kekerabatan secara alamiah. Bagaimana caranya agar suku-suku pribumi ini bisa tercerai-berai, punah, hilang kepercayaan diri dan tunduk takluk menyembah para puanim ? Inilah bahan pergumulan kaum pendatang di Merauke selama bertahun-tahun.
Kemunculan Satgas Papua pada tahun 2000 yang berhasil mempersatukan suku-suku pribumi semakin membuat kaum pendatang di Merauke dan seantero Papua memutar otak, memikirkan cara yang cepat dan tepat untuk mematahkan persatuan kaum pribumi lalu menguasai dan menghancurkan mereka secara efektif. Pergumulan mereka berhasil terjawab oleh sebuah analisis intelijen yang cukup memadai bahwa persatuan orang Papua dan kehidupan mereka hanya bisa dihancurkan melalui pembentukan wilayah-wilayah baru atau pemekaran wilayah. Maka dimulailah proyek pemekaran kabupaten pada tahun 2003.
Pemekaran kabupaten Boven Digoel, Mappi dan Asmat yang lepas dari Merauke pada tahun 2003 mendapat tantangan dari Mahasiswa Merauke (IMMER) di Jayapura, tetapi karena pengurus IMMER waktu itu berpikiran pendek dan lebih senang menjadi antek penguasa, lebih senang menjadi budak kaum pendatang untuk bersama-sama menghisap darah orang tua mereka di kampung, mereka menyediakan dirinya dipakai habis-habisan oleh Wakil Bupati Merauke, Benyamin Simatupang. Simatupang dengan bantuan Alm. John Fachiri, memakai jasa Kopasus untuk menebar teror di kalangan Mahasiswa IMMER di Jayapura agar wacana pemekaran kabupaten di Merauke tidak dibatasi. Komplotan penjahat ini juga berhasil mengintervensi Konggres IMMER.
Apa yang terjadi setelah Boven Digoel, Mappi dan Asmat dimekarkan? Faktanya dapat kita saksikan sendiri. Rakyat pribumi menderita sementara pejabat Papua bersama kaum pendatang berfoya-foya diatas penderitaan mereka. Korupsi merajalela, angka kematian penduduk pribumi meningkat, minuman keras beredar atas bantuan Polisi dan Tentara, para perempuan kita yang merupakan mutiara paling bernilai dalam keluarga kita dihancurkan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tanah-tanah ulayat ditukar dengan motor bekas, chain saw bekas, perempuan bekas (janda) dan barang-barang bekas lainnya.
Kita saksikan saat ini di kabupaten-kabupaten baru, kaum pedagang pendatang menghisap rakyat pribumi melalui barang dagangan mereka yang mahal, setiap usaha kaum pribumi untuk menuntut hak mereka langsung dianggap OPM, pemekaran wilayah diikuti dengan pemekaran lokalisasi WTS, bangunan sekolah di kampung-kampung menyerupai kandang ayam, semua guru-guru Sekolah Dasar ditarik menjadi kepala dinas, kepala distrik dan staf di kantor-kantor pemerintah sehingga sekolah menjadi miskin tenaga pengajar, dll. Baru-baru ini, kita saksikan sebuah kejahatan rasial hasil Pemilu Legislatif 2009. DPRD Boven Digoel saat ini mutlak dikuasai oleh kaum pendatang, yaitu 16 orang dari 20 kursi yang tersedia. Ini artinya, mereka akan membuat Peraturan Daerah (Perda) yang hanya menguntungkan ras dan bisnis mereka sendiri. Semua kegagalan pemekaran kabupaten dapat kita ikuti di media massa dalam pemberitaan tentang kelaparan, korupsi, angka kematian, kekurangan guru, dll.
Berbagai kampanye tentang zaman bahagia bagi orang pribumi dalam pemekaran wilayah hanyalah omong kosong belaka karena fakta di lapangan berkata lain. Orang Pribumi semakin punah, tanah mereka satu per satu mulai jatuh ke tangan kaum pendatang dan posisi kaum pribumi di ibu kota kabupaten pemekaran saat ini mengikuti pola pemukiman di Merauke. Kaum pribumi hidup di pinggiran kota, menjadi pagar hidup untuk melindungi puanim yang hidup menikmati berbagai fasilitas pembangunan di tengah kota : jalan raya, jasa angkutan umum, signal telepon, listrik, bank, rumah sakit, sekolah, air bersih, dll.
Proses peminggiran kaum pribumi Muman telah menjadi sesuatu yang niscaya akan terjadi apabila wilayah Muman menjadi kabupaten sendiri yang terlepas dari Boven Digoel. Peminggiran kaum pribumi pasti terjadi karena orang-orang yang gereja memberitahu kita supaya menganggap mereka sebagai sesama manusia yang bersaudara dalam Yesus, saudara sebangsa-setanah air, sesama orang Indonesia Timur, saudara dalam semangat persatuan Indonesia, adalah pengidap paham rasisme. Bagi mereka, hidup ini tidak indah kalau tidak ada komunitas pribumi Papua (beda ras) yang punah diatas tanah sendiri atau menjadi minoritas kemudian berkeliaran di tengah-tengah mereka seperti makhluk aneh dan menjadi tontonan gratis bagi mereka.
Tugas Rakyat Muman saat ini adalah membangun Boven Digoel karena para pejuang pemekaran Boven Digoel terbukti tidak mampu memenuhi kampanye penipuan mereka terhadap rakyat setempat pada tahun 2003. Menyetujui pemekaran kabupaten Muman berarti terlibat langsung dalam proses peminggiran Orang Muman. Tidak ada alasan untuk membentuk kabupaten Muman karena proyek ini bukan aspirasi rakyat. Segelintir Orang Muman bernaluri pemakan bangkai saja yang terlibat dalam proyek ini. Mereka sudah tidak berpikir soal nasib rakyat. Bagi mereka, Rakyat & Tanah Muman = UANG! Mereka hanya berpikir bagaimana bisa memuaskan diri sendiri, tidak peduli bagaimana nasib Orang Muman bila jadi kaum pinggiran. Mereka sudah membayangkan mobil, rumah mewah, pasangan seks dan kedudukan. Mereka mulai menggarap organisasi mahasiswa untuk mencari dukungan, buat pertemuan gelap di rumah makan mewah dan melakukan propaganda media massa. Mereka tidak bisa tidur nyenyak. Setiap hari mereka putar otak, bagaimana kabupaten Muman bisa jadi supaya Orang Muman bisa secepatnya menjadi orang pinggiran dan hidup menderita! Mereka ingin secepatnya menyaksikan kondisi ini! ***
Download Selebaran Nupka! Edisi 02 Versi PDF
Pemekaran Muman – seperti pemekaran wilayah lainnya di Papua – bertujuan untuk membuat kaum pribumi menjadi orang pinggiran. Kita semua tahu dengan jelas bahwa Merauke merupakan sarang kaum pendatang. Disana penduduk pribumi berstatus sebagai kaum pinggiran. Mereka menjadi korban pembangunan (yang namanya pembangunan tidak pernah berpihak kepada kaum pribumi di planet ini) dan penguasaan tanah-tanah ulayat mereka oleh kaum pendatang. Mereka berkeliaran seperti makhluk aneh dengan jumlah yang sangat sedikit. Jumlah mereka tentu saja ditekan selama hampir 100 tahun – sejak Gereja Katolik menancapkan kukunya diatas bumi Anim Ha – agar tidak boleh berkembang. Hal ini mengikuti rumus baku dalam hal caplok-mencaplok wilayah tertentu, bahwa jumlah kaum pribumi yang banyak dan kuat biasanya akan menjadi ancaman dan penghalang terbesar bagi para pendatang yang ingin mencaplok dan menguasai wilayah milik pribumi bersangkutan.
Suku Marind Anim yang hampir punah, hilang kepercayaan diri dan tunduk takluk menyembah para puanim (pendatang), ternyata membuat kaum pendatang merasa senang karena dengan kondisi suku asli yang jumlahnya sedikit dan menyerupai mayat hidup ini, mereka akan dengan leluasa berkembangbiak, menguasai semua sumber-sumber penghidupan masyarakat, menguasai pemerintahan dan mengambil-alih tanah pusaka Marind Anim. Tetapi mereka masih mendapat tantangan karena ada banyak suku pribumi Papua Selatan – Yahray, Awyu, Asmat, Wambon, Muyu, Kombay, dll – yang hidup bersama orang Marind Anim dan membangun kekerabatan secara alamiah. Bagaimana caranya agar suku-suku pribumi ini bisa tercerai-berai, punah, hilang kepercayaan diri dan tunduk takluk menyembah para puanim ? Inilah bahan pergumulan kaum pendatang di Merauke selama bertahun-tahun.
Kemunculan Satgas Papua pada tahun 2000 yang berhasil mempersatukan suku-suku pribumi semakin membuat kaum pendatang di Merauke dan seantero Papua memutar otak, memikirkan cara yang cepat dan tepat untuk mematahkan persatuan kaum pribumi lalu menguasai dan menghancurkan mereka secara efektif. Pergumulan mereka berhasil terjawab oleh sebuah analisis intelijen yang cukup memadai bahwa persatuan orang Papua dan kehidupan mereka hanya bisa dihancurkan melalui pembentukan wilayah-wilayah baru atau pemekaran wilayah. Maka dimulailah proyek pemekaran kabupaten pada tahun 2003.
Pemekaran kabupaten Boven Digoel, Mappi dan Asmat yang lepas dari Merauke pada tahun 2003 mendapat tantangan dari Mahasiswa Merauke (IMMER) di Jayapura, tetapi karena pengurus IMMER waktu itu berpikiran pendek dan lebih senang menjadi antek penguasa, lebih senang menjadi budak kaum pendatang untuk bersama-sama menghisap darah orang tua mereka di kampung, mereka menyediakan dirinya dipakai habis-habisan oleh Wakil Bupati Merauke, Benyamin Simatupang. Simatupang dengan bantuan Alm. John Fachiri, memakai jasa Kopasus untuk menebar teror di kalangan Mahasiswa IMMER di Jayapura agar wacana pemekaran kabupaten di Merauke tidak dibatasi. Komplotan penjahat ini juga berhasil mengintervensi Konggres IMMER.
Apa yang terjadi setelah Boven Digoel, Mappi dan Asmat dimekarkan? Faktanya dapat kita saksikan sendiri. Rakyat pribumi menderita sementara pejabat Papua bersama kaum pendatang berfoya-foya diatas penderitaan mereka. Korupsi merajalela, angka kematian penduduk pribumi meningkat, minuman keras beredar atas bantuan Polisi dan Tentara, para perempuan kita yang merupakan mutiara paling bernilai dalam keluarga kita dihancurkan sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, tanah-tanah ulayat ditukar dengan motor bekas, chain saw bekas, perempuan bekas (janda) dan barang-barang bekas lainnya.
Kita saksikan saat ini di kabupaten-kabupaten baru, kaum pedagang pendatang menghisap rakyat pribumi melalui barang dagangan mereka yang mahal, setiap usaha kaum pribumi untuk menuntut hak mereka langsung dianggap OPM, pemekaran wilayah diikuti dengan pemekaran lokalisasi WTS, bangunan sekolah di kampung-kampung menyerupai kandang ayam, semua guru-guru Sekolah Dasar ditarik menjadi kepala dinas, kepala distrik dan staf di kantor-kantor pemerintah sehingga sekolah menjadi miskin tenaga pengajar, dll. Baru-baru ini, kita saksikan sebuah kejahatan rasial hasil Pemilu Legislatif 2009. DPRD Boven Digoel saat ini mutlak dikuasai oleh kaum pendatang, yaitu 16 orang dari 20 kursi yang tersedia. Ini artinya, mereka akan membuat Peraturan Daerah (Perda) yang hanya menguntungkan ras dan bisnis mereka sendiri. Semua kegagalan pemekaran kabupaten dapat kita ikuti di media massa dalam pemberitaan tentang kelaparan, korupsi, angka kematian, kekurangan guru, dll.
Berbagai kampanye tentang zaman bahagia bagi orang pribumi dalam pemekaran wilayah hanyalah omong kosong belaka karena fakta di lapangan berkata lain. Orang Pribumi semakin punah, tanah mereka satu per satu mulai jatuh ke tangan kaum pendatang dan posisi kaum pribumi di ibu kota kabupaten pemekaran saat ini mengikuti pola pemukiman di Merauke. Kaum pribumi hidup di pinggiran kota, menjadi pagar hidup untuk melindungi puanim yang hidup menikmati berbagai fasilitas pembangunan di tengah kota : jalan raya, jasa angkutan umum, signal telepon, listrik, bank, rumah sakit, sekolah, air bersih, dll.
Proses peminggiran kaum pribumi Muman telah menjadi sesuatu yang niscaya akan terjadi apabila wilayah Muman menjadi kabupaten sendiri yang terlepas dari Boven Digoel. Peminggiran kaum pribumi pasti terjadi karena orang-orang yang gereja memberitahu kita supaya menganggap mereka sebagai sesama manusia yang bersaudara dalam Yesus, saudara sebangsa-setanah air, sesama orang Indonesia Timur, saudara dalam semangat persatuan Indonesia, adalah pengidap paham rasisme. Bagi mereka, hidup ini tidak indah kalau tidak ada komunitas pribumi Papua (beda ras) yang punah diatas tanah sendiri atau menjadi minoritas kemudian berkeliaran di tengah-tengah mereka seperti makhluk aneh dan menjadi tontonan gratis bagi mereka.
Tugas Rakyat Muman saat ini adalah membangun Boven Digoel karena para pejuang pemekaran Boven Digoel terbukti tidak mampu memenuhi kampanye penipuan mereka terhadap rakyat setempat pada tahun 2003. Menyetujui pemekaran kabupaten Muman berarti terlibat langsung dalam proses peminggiran Orang Muman. Tidak ada alasan untuk membentuk kabupaten Muman karena proyek ini bukan aspirasi rakyat. Segelintir Orang Muman bernaluri pemakan bangkai saja yang terlibat dalam proyek ini. Mereka sudah tidak berpikir soal nasib rakyat. Bagi mereka, Rakyat & Tanah Muman = UANG! Mereka hanya berpikir bagaimana bisa memuaskan diri sendiri, tidak peduli bagaimana nasib Orang Muman bila jadi kaum pinggiran. Mereka sudah membayangkan mobil, rumah mewah, pasangan seks dan kedudukan. Mereka mulai menggarap organisasi mahasiswa untuk mencari dukungan, buat pertemuan gelap di rumah makan mewah dan melakukan propaganda media massa. Mereka tidak bisa tidur nyenyak. Setiap hari mereka putar otak, bagaimana kabupaten Muman bisa jadi supaya Orang Muman bisa secepatnya menjadi orang pinggiran dan hidup menderita! Mereka ingin secepatnya menyaksikan kondisi ini! ***
Download Selebaran Nupka! Edisi 02 Versi PDF

